Cerpen Keajaiban Sebuah Kanvas

By Syarif H 15 Agu 2025, 20:20:00 WIB Coretan Siswa

Keajaiban Sebuah Kanvas

Di sebuah desa terpencil yang berada di lereng Gunung Lawu, hiduplah seorang gadis bernama Dewi Pradita. Tidak seperti anak-anak lain yang bermain dan berlarian di ladang atau sungai, Dewi lebih senang duduk diam dengan selembar kertas dan pensil di tangannya. Ia mulai melukis sejak usia lima tahun dan sejak saat itu, warna-warna dan garis menjadi bahasanya sendiri. Ada satu keunikan di dalam lukisannya, yaitu setiap goresan yang ia ciptakan akan terasa hidup seakan menyimpan energi alam di dalamnya. Setiap gambar yang ia buat bukan hanya indah dipandang, tetapi juga menyimpan kekuatan magis yang tak dimiliki oleh pelukis lain.

Setiap hari, ketika matahari mulai menyingsing di ufuk timur dan kabut masih menggantung di pucuk-pucuk pepohonan. Dewi akan bangun, lalu dengan langkah ringan ia berjalan menyusuri jalan setapak menuju bukit di belakang rumahnya. Di tangannya ia membawa kanvas kosong, sekotak cat air, dan perlengkapan melukis lainnya. Bukit itu menjadi tempat favoritnya sejak kecil, tempat ia merasa paling dekat dengan alam. Dari puncaknya, pemandangan sawah yang menghampar luas, sungai yang mengalir tenang, dan Gunung Lawu yang gagah menjulang sangat sempurna untuk dijadikan objek lukisan.

Duduk di atas batu besar yang telah menjadi "studionya", ia mulai menggoreskan kuas di atas kanvas dengan gerakan cepat namun teratur seperti penari yang sudah hafal irama.

Seolah berpacu dengan waktu, ia melukis detik-detik fajar yang begitu singkat namun memikat. Kabut pagi yang menggumpal, dahan-dahan yang melambai tertiup angin, dan tetes bening yang merambat perlahan dari ujung daun, semua terbingkai dalam keajaiban.

Setiap kali Dewi selesai melukis, keajaiban terjadi. Lukisan itu akan memancarkan cahaya. Bila disentuh permukaannya terasa sejuk seperti embun pagi. Jika ia melukis hutan, angin sepoisepoi akan terasa berhembus di sekitar. Jika ia melukis sawah, gemericik air dan suara serangga akan terdengar samar. Seolah lukisannya tampak menjadi sambungan dari alam itu sendiri. Bahkan orang-orang yang melihatnya merasa seakan berada di tempat yang sama dengan apa yang tergambar.

 

Namun di balik keindahan itu, tersimpan luka yang tidak diketahui banyak orang. Dewi harus menghadapi penolakan dari ayahnya sendiri. Suatu malam, ketika angin berhembus kencang dan hujan turun deras, terdengar perdebatan dari dalam rumah mereka yang sederhana. Ayah Dewi

tampak gusar. "Aku tidak mengerti, mengapa anak kita selalu membuang waktu nya untuk lukisan yang tidak berguna itu," keluh ayahnya sambil menatap keluar jendela. Ibu dewi mencoba menenangkan dengan lembut, "Tapi Yah, lukisannya indah. Banyak orang di desa menyukainya. Mereka bilang, lukisan Dewi membawa ketenangan." Ayahnya pun menyela dengan nada tinggi, "Indah saja tidak cukup, Bu! Apa bisa dia hidup dari lukisan? Siapa yang akan menjamin masa depannya? Dunia ini keras, bukan tempat untuk berkhayal!" Dewi mendengar percakapan itu dari balik pintu kamarnya, tak sadar air matanya menetes diam-diam. Di tangannya, ia menggenggam kuas erat-erat, seolah tak ingin melepaskannya. Meski hatinya sedih dan kecewa, semangatnya tidak padam. Ia tahu bahwa bakat yang dimilikinya bukan sekadar hobi, melainkan panggilan jiwa. Ia merasa memiliki tugas yang lebih besar menjaga keselarasan antara manusia dan alam melalui seni.

Hari-hari berlalu. Suatu hari, beredar kabar bahwa pemerintah kota akan membangun pabrik di lahan pertanian warga, termasuk di sekitar lereng bukit tempat Dewi biasa melukis. Kabar itu menyebar cepat dan menimbulkan perpecahan serta kegaduhan di antara para warga. Di balai desa, rapat darutat pun digelar. "Pembangunan ini akan membawa kemajuan besar. Kita akan mendapat pekerjaan tetap!" seru Pak Jarwo salah satu warga yang mendukung pembangunan proyek tersebut. "Tapi bagaimana dengan alam kita? Kalau sawah rusak, kita makan dari mana?" sanggah Bu Siti, seorang petani tua yang telah menggantungkan hidupnya dari tanah desa itu. Perdebatan semakin memanas. Sebagian warga tergoda oleh janji lapangan pekerjaan dan pembangunan. Namun sebagian lain khawatir akan dampak jangka panjang terhadap lingkungan. Sayangnya, suara yang mendukung pembangunan semakin menguat, dan dukungan terhadap pelestarian alam kian melemah.

Kala pagi menjelang. Pembangunan hendak dimulai, Dewi mengambil keputusan besar. Ia membawa kanvas terbesar yang ia miliki, lalu berjalan menuju puncak bukit dengan hati penuh tekad. Ia mulai melukis dengan sepenuh jiwa dan. berharap lukisannya akan menyelamatkan alam dari tangan-tangan yang akan merusaknya. Ia menggoreskan gunung yang menjulang, sawah yang hijau, sungai yang mengalir jernih, hutan yang rimbun, dan desa kecil yang damai di tengahnya. Ia melukis bukan hanya dengan tangan, tapi dengan hatinya yang tulus mencintai alam.

Saat lukisan itu selesai, hal luar biasa pun terjadi. Kabut tebal turun dan menyelimuti seluruh wilayah yang hendak digusur. Kabut itu tak seperti biasanya, ia bertahan berhari-hari, bahkan

berminggu-minggu. Tidak ada alat berat yang bisa masuk ke lokasi proyek. Jalan menjadi licin dan pandangan tertutup. Seolah alam menolak untuk disentuh dan diubah.

Sementara itu, di ruang rapat kantor pusat perusahaan, dua petinggi proyek tengah berbincang dengan gelisah. "Kenapa kabut itu tak kunjung hilang? Alat-alat berat kita tak bisa masuk," keluh salah satu bos, Pak Tono. "Kita sudah laporkan ke pihak berwenang, tapi mereka pun bingung. Ini di luar logika. Seolah ada kekuatan alam yang menolak kita masuk," sahut rekannya, Bu Diah. Mereka terdiam, menatap peta lokasi proyek yang kini tertutup warna kelabu.

Pembangunan terpaksa dihentikan, dan pemerintah memutuskan untuk tidak melanjutkan rencana penggusuran di lokasi tersebut. Para warga yang awalnya mendukung pembangunan tersebut pun mulai menyadari bahwa ada yang lebih berharga daripada uang dan kemajuan yaitu keseimbangan alam. Para warga bersyukur dan bahagia karena

pembangunan tidak dilaksanakan. Ayah Dewi, yang semula keras dan tidak percaya pada bakat anaknya, akhirnya luluh. Ia menatap putrinya dengan mata berkaca dan berkata, “Ayah salah, Nak. Ternyata lukisanmu bukan sekadar gambar. Mereka menjaga kita, melindungi kita." Ibu Dewi tersenyum haru dan memeluk putrinya. "Mulai sekarang, kami akan selalu mendukungmu. Kembangkan bakatmu, Nak." Dewi pun menatap kedua orang tuanya dengan penuh kasih sayang. Hari itu menjadi awal dari perubahan besar, bukan hanya untuk Dewi, tapi juga untuk seluruh desa.

Sejak saat itu, desa di lereng Gunung Lawu dijadikan kawasan konservasi. Warga bersamasama menjaga alam dan tidak lagi tergoda oleh janji-janji pembangunan yang mengorbankan lingkungan. Kabut tipis yang sejuk selalu muncul di pagi hari, desiran angin dan tetesan embun menjadi teman setia mereka.

Dan Dewi, ia tetap melukis setiap fajar, menjaga keseimbangan antara manusia dan alam melalui setiap goresan kuasnya. Lukisannya tak hanya memperindah dunia, tetapi juga menjadi perantara antara bumi dan hati manusia. Ia telah menemukan takdirnya, dan dari bukit kecil itulah, keajaiban terus hidup.

 

 




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment